Perumahan di Cileungsi & Jonggol Picu Kemacetan Lalulintas
Berkembangnya kawasan Cileungsi dan Jonggol ternyata menarik developer besar untuk mengembangkan kawasan pemukiman di wilayah ini. Grup Ciputra, Kharisma Group, Kentanix Supra International, Metropolitan Land dan beberapa pengembang kelas menengah lainnya seolah berlomba membuka kawasan baru dan mengembangkannya menjadi perumahan. Posisi yang strategis dan akses yang relatif dekat dengan ibukota Jakarta juga menjadi pertimbangan konsumen untuk membeli rumah di kawasan Bogor Timur ini. Selain itu, kawasan perbukitan dan masih kentalnya nuansa alam wilayah ini menjadi nilai jual tersendiri bagi para pengembang.
Namun demikian, perkembangan wilayah Jonggol dan Cileungsi ini tak diimbangi dengan pengembangan infrastruktur jalan yang memadai. Semakin besarnya volume kendaraan yang melintasi jalur ini menimbulkan kemacetan di beberapa titik seperti perempatan Cileungsi, Mekarsari dan Gandoang. Bahkan beberapa perumahan juga turut menyumbang titik rawan kemacetan seperti di depan gerbang perumahan Permata Cibubur, Metland Transyogi, Harvest City, Grand Nusa Indah dan Citra Indah. Selain itu beberapa perusahaan yang operasi disepanjang jalur ini juga kerap menyumbang kemacetan lalulintas seperti yang terjadi di depan PT. Citra Abadi, dan beberapa perusahaan lainnya di wilayah Mekarsari. Bahkan khusus akhir pekan dan libur nasional, kawasan wisata Mekarsari menjadi pemicu utama kemacetan di jalur Cileungsi Jonggol.
Berdasarkan pengamatan tim Jonggol Online, ternyata perumahan-perumahan di Cileungsi dan Jonggol menjadi pemicu utama kemacetan. Seperti yang terlihat di gerbang perumahan Permata Cibubur dan Metland Transyogi, Cileungsi. Banyaknya penghuni dan pelintas jalan dari Kelapa Nunggal, Narogong dan Setu yang memilih jalan pintas melalui perumahan ini setiap pagi, siang dan sore hari, menyebakan perumahan ini menyumbang kemacetan yang luar biasa. Belum lagi dengan dibangunnya hypermarket Giant juga menambah tingkat kemacetan di tempat ini.
Berikutnya kemacetan juga sering nampak didepan gerbang perumahan Harvest City, Grand Nusa Indah dan Citra Indah, Jonggol. Kemacetan di tempat ini lebih sering terlihat pada pagi dan sore hari. Ir. Kuswara, salah seorang ahli tata kota menyatakan, DLLAJ Kabupaten Bogor sudah selayaknya melakukan survei ulang untuk mengetahui tingkat kelayakan jalan raya Jonggol. “Pihak Dinas (DLLAJ) sebaiknya melakukan traffic counting kembali untuk mengetahui tingkat kepadatan kendaraan yang melintas di jalur ini” ujarnya kepada tim Jonggol Online. Menurutnya pihak DLLAJ juga bisa melakukan pengaturan waktu operasi bagi kendaraan besar yang melintas agar dapat mengurangi tingkat kemacetan. Padahal selama ini kendaraan besar pengangkut pasir masih dapat melintas pada siang hari tanpa adanya pembatasan jam operasi. Selain itu, di setiap gerbang perumahan perlu dibangun jembatan penyebrangan bagi pejalan kaki.
Kemacetan yang kerap terjadi setiap hari ini juga dikeluhkan pengguna jalan. Ade, seorang pengendara yang bekerja di Jakarta Barat mengatakan, dirinya harus berangkat pada jam 5 pagi dan pulang setelah jam 7 malam agar dapat terhindar kemacetan di wilayah Cileungsi dan Cibubur. “Kalau ga gitu, saya bisa stress di jalan mas” ujarnya. Menurutnya kemacetan di Cileungsi dan Jonggol sudah terbilang parah. Bahkan ia sempat mempertimbangkan untuk pindah rumah dari tempat tinggalnya sekarang di Citra Indah, Jonggol. (MY/JO)











